Sunday, 20 April 2014

Iwan Fals - Bongkar (Live)

Menguak Pelan-Pelan Kepalsuan Jokowi
TERBUKTI, TERNYATA BODONG HABIS..............
PEMILU 9 April 2014 muncul keanehan-kenahen secara kasat mata, bahwa kebanyakan media-media

mainstream yang terindikasi dibayar untuk pencitraan Jokowi. langsung frustasi dalam menulis

semua berita dan mewartakan cerita bergambar dalam psikologis tertekan sekaligus terkesan

'marah'.
Media-media tersebut adalah:

1) First Media Grup (beritasatu1.TV beritasatu .com, suara pembaruan, Jakarta Globe, Suara

Pembaruan, The Straits Times, Majalah Investor, Globe Asia, The Peak, Campus Asia, Student

Globe, Kemang Buzz, Campus Life, Termasuk Beritasatu FM. First Media Grup adalah milik James

Riady (Lippo Grup), konglomerat yang bersahabat baik dgn Bill Clinton dan terlibat Lippo

Gate yg terjadi di AS, ketika James Riady cs tertangkap memberikan dana politik illegal

jutaan dollar kepada timses capres Demokrat Bill Clinton untuk pemenangan Clinton pada

pemilihan Presiden AS. Uang sumbangan James Riady cs itu kemudian terbukti berasal dari

China Global Resources Ltd, sebuah perusahaan kedok milik China Military Intelligence (CMI).

2) Media lain yang dikontrak mahal untuk pencitraan palsu Jokowi adalah Detik Grup. Awalnya

dan ngakunya milik Chairul Tanjung alias CT, tapi sebenarnya milik Salim Grup. Detik.com

Setiap hari, detikcom memuat berita tentang pencitraan palsu Jokowi puluhan bahkan kadang

lebih 100 berita. Chairul Tanjung hanya dipinjam nama dan bertindak untuk dan atas

kepentingan Antony Salim (Salim Grup).

3) Kompas /Gramedia Grup memang tidak segila detikcom siarkan Jokowi, tapi tetap punya KANAL

BERITA KHUSUS untuk mempromosikan Jokowi dan Ahok. Diprediksi menjelang masa pilpres 2014,

Kompas dan Gramedia Grup akan habis – habisan mendukung Jokowi – Ahok.

4) Jawa Pos Grup. Tidak melibatkan semua media milik Dahlan Iskan yang jumlahnya 185 TV,

Koran, Online media, dll itu. Sekitar 40% JawaPos Grup dikontrak. Namun, dipastikan jika

Dahlan Iskan mau sebagai capres, Jawa Pos Grup tidak akan terlalu mendukung Jokowi kecuali

mendapat permintaan khusus dari Chairul Tandjung, tokoh yang merekomendasikan Dahlan Iskan

ke Presiden SBY untuk ditunjuk sebagai Menteri BUMN tahun 2011 lalu.

5) Yang paling gencar dalam menjilat Jokowi adalah Koran Rakyat Merdeka. Ada saja berita

(palsu) istimewa tentang Jokowi. Kontraknya puluhan Milyar. Rakyat Merdeka, tertera milik

Margiono, Ketua Umum PWI Pusat.

6) Tempo (majalah dan Online) adalah media pelopor yg orbitkan Jokowi dengan penghargaan “10

Tokoh Terbaik (penghargaan abal-abal), hanya karena bisa pindahkan Pedagang Kaki Lima (PKL),

itu pun dilakukan setelah hampir setahun bolak balik mengunjungi dan mengundang PKL makan

bersama. Fakta terakhir, PKL Solo kembali ke lokasi awal sebelum pindah karena di tempat

baru dagangan mereka tidak laku.

7) Tribunnews Grup (Bosowa dan Kompas) juga dikontrak untuk pencitraan palsu Jokowi.

Demikian juga Fajar Grup (Alwi Hamu/Dahlan Iskan). Alwi Hamu juga merupakan patner bisnis

Dahlan Iskan di media dan PLTU Embalut, Kaltim yang sarat korupsi itu.

8) Metro TV, tidak tahu sekarang dibayar berapa untuk kontrak pencitraan palsu Jokowi sampai

2014. Tapi saat Pilkada DKI puluhan milyar. Sejak dapat bisnis iklan dari Konglomerat –

konglomerat pendukung Jokowi, Metro TV jadi corong nomor satu Jokowi, disamping jadi corong

kampanye dan pencitraan Dahlan Iskan yang memberikan kontrak iklan luar biasa besar dari

BUMN – BUMN kepada Metro TV. Makanya, Surya Paloh, sebagai orang pertama yang didatangi

utusan PDI-P ke kantor Nasdem di Gondangdia Jakarta, pada 10 April 2014.

9) SCTV grup. Pemiliknya Edi dan Popo Sariatmadja malah menjadi cukong utama. Koordinator

media pencitraan Jokowi, membantu James Riady. Dukungan promosi dan kampanye yang diberikan

untuk Jokowi gratis alias tanpa bayaran, meski diduga sebenarnya sudah mendapatkan imbalan

dari dana pemenangan Jokowi yang telah terkumpul puluhan triliun dari sumbangan para

konglomerat hitam Indonesia.

10) Media raksasa lain seperti Vivanews grup (TV One, ANTV, Vivanewscom dll) milik Bakrie

meski kontrak dgn Cukong Jokowi tapi porsinya kurang dari 30%, dan masih melihat

perkembangan situasi dan kondisi politik nasional mengingat Aburizal Bakrie masih berstatus

Ketum Golkar dan kandidat capres. Salah satu yang sangat menonjol, ketika pemilik VivaNews,

Andri Bakrie langsung mencak-mencak marah kepada sidang redsksi VivaNews, ketika di halaman

depan ada iklan Jokowi. Dan, korbanya jajaran pimpinan redaksi VivaNews mundur semuanya.

DUNIA MAYA
Selain media cetak, televisi mainstream, sosial media seperti twitter, facebook, kaskus dll

juga dikontrak khusus. Lihat saja di sini. Bahkan di twitter juga mulai ada akun relawan

yang berusaha menjelaskan dengan kata-kata manis mengenai tingkah-polahnya yang anomali pada

tiap akun yang berkomentar negatif. Rumornya ia memiliki buzzer sebanyak 1500-2000an yang

mengelola lebih dari 10.000 akun sosial media . Buzzer adalah semacam pasukan bayaran

online, yang siap menjaga reputasinya di internet dengan cara menyusup di berbagai forum dan

kolom komentar untuk mendongkrak citranya. Para buzzer bayaran ini akan berkomentar positif

tentangnya dan menyerang habis-habisan mereka yang tidak melihatnya sebagai “dewa”. Dulu

waktu pilkada DKI, selain orang-orang yang permanen kelola akun untuk pencitraan Jokowi,

dibentuk juga Tim Jasmev. Puluhan Milyar biayanya. Lihat gambar yang sempat diambil saat

pemilukada DKI lalu ini:

Banyak akun palsu pembela Jokowi di sosial media. Untuk mendeteksi akun pembela Jokowi palsu

tidak sulit. Salah satunya, banyak hal yang disampaikan sangat tidak masuk akal. Begitulah

yang disampaikan Praktisi Teknologi Informasi, Chafiz Anwar, ketika dihubungi wartawan,

Jumat (1/11/2013).

Chafiz mengatakan ciri-ciri akun palsu yang digunakan, segi jumlah komentar melalui media

sosial yang serentak menyerang ataupun membela Jokowi. Padahal, hal itu tidak mungkin

dilakukan pemilik akun asli secara bersamaan. “Tidak mungkin komentar ribuan sekaligus

dilakukan oleh pemilik akun asli,” katanya.

Ciri lainnya yang juga mudah dianalisa, menurut Chafiz, adalah dengan membandingkan jumlah

pembaca dan jumlah komentarnya. Untuk masalah Jokowi misalnya jika ada yang mengkritiknya di

sebuah media online dan kemudian langsung ada serangan dari ribuan orang seperti itu pernah

dialami terakhir oleh Ketua Fraksi Partai Demokrat, Nurhayati Assegaf dan itu bisa

ditegaskan kepalsuannya.

“Coba saja bayangkan berita yang mengkritik di sebuah media online itu. Baru beberapa saat

tayang langsung yang komentar ribuan, itu sangat tidak mungkin. Kalau bukan sebuah tim yang

mengerjakannya yang bisa saja terdiri dari puluhan orang,” tambahnya.

Yang paling mungkin kata dia lagi, yang baca satu orang tapi orang ini memegang ratusan

akun. Hal ini bisa dilihat jelas dari komentar-komentar pendukung Jokowi.

Ciri lainnya yang juga bisa diliat adalah ketidakjelasan identitas para pemain akun ini.

Biasanya mereka kata Chafiz, menggunakan nama-nama palsu dan foto-foto palsu atau

menggunakan gambar kartun. “Yah satu orang kan gak mungkin punya 10 akun dengan nama sama

dan foto yang sama.Sementara dari mereka satu orang minimal bisa memiliki 100 akun,” kata

Chafiz.

Mereka jelasnya lagi menggunakan mesin pendeteksi dengan keyword-keyword tertentu. “Misalnya

kalimat Jokowi belum pantas jadi presiden.Mesin mereka ini berjalan seperti halnya mesin

pencari google,begitu mesin mendeteksi ada kalimat atau kata tertentu yang dimasukkan,mereka

akan bergerak cepat dan membalas kalimat-kalimat tersebut,” tegasnya.

No comments:

Post a Comment

The Way of the Samurai (Documentary)

The Way of the Samurai (Documentary): http://youtu.be/9l-xmIokFgg